Roti Canai

Roti canai bukan sekadar hidangan sarapan yang lezat, melainkan simbol pertemuan budaya yang kaya antara India dan Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia.
Mengapa Dinamakan “Canai”? Ada beberapa teori populer mengenai asal-usul nama “Canai”: Kota Chennai: Banyak yang percaya nama ini merujuk pada kota Chennai (dulu Madras) di India, tempat asal mayoritas imigran tersebut. Teknik “Canai”: Dalam bahasa Melayu, “canai” berarti menipiskan atau mencanai adonan. Ini merujuk pada proses memutar dan membanting adonan agar menjadi sangat tipis sebelum dilipat. Kombinasi Chana: Teori lain menyebutkan nama ini berasal dari Chana, jenis kacang kuda yang sering disajikan sebagai kuah pendamping roti tersebut.
Asal-Usul – Dari India ke Selat Melaka
Akar sejarah roti canai berasal dari India Selatan, tepatnya dari hidangan yang dikenal sebagai Paratha (atau Parotta). Migrasi Abad ke-19: Selama masa kolonial Inggris, banyak imigran dari India Selatan (terutama etnis Tamil) datang ke Semenanjung Malaya untuk bekerja. Mereka membawa serta teknik memasak tradisional, termasuk pembuatan roti pipih tanpa ragi. Adaptasi Lokal: Di tanah baru ini, resep asli mengalami penyesuaian. Bahan-bahan yang tersedia secara lokal dan selera masyarakat setempat mengubah tekstur paratha yang asli menjadi lebih ringan, garing di luar, namun tetap lembut di dalam
Konteks Sosial: Budaya “Metang”
Di Pontianak dan sekitarnya, sebuah acara dimulai jauh sebelum tenda dipasang. Ia dimulai dari pintu ke pintu. “Assalamualaikum, dari keluarga Si Fulan, mengundang untuk acara tahlilan/syukuran, nyilekan ke rumah habis Isya…”
Itulah Metang. Sebuah undangan lisan yang membawa beban moral; yang di-petang merasa berkewajiban hadir sebagai perwakilan keluarga. Dan bagi tuan rumah, kehadiran tamu adalah kehormatan yang harus dibalas dengan sajian yang pantas. Di sinilah Roti Cane mengambil peran.
Bukan “Tambol” Warung
Jangan samakan Roti Cane di acara hajatan dengan kue-kue di warung kopi pagi.
Tambol: Sifatnya rutin. Bingka, risoles, atau dokok-dokok yang kita beli sebelum jam 8 pagi untuk teman ngopi adalah rutinitas harian
Roti Cane: Sifatnya momentum. Ia tidak dijajakan di rak titipan kue. Ia disiapkan khusus—seringkali dalam jumlah besar—karena tuan rumah sedang punya hajat. Kehadirannya di atas talam (nampan) menandakan bahwa acara ini disiapkan dengan niat, bukan sekadar kunyah-kunyahan seadanya.
Karakter Rasa dalam Perhelatan
Saat tamu duduk bersila, melingkar menghadapi hidangan, Roti Cane menjadi jembatan interaksi
Sajian: Biasanya disajikan dengan Kuah Kari Kambing atau Sapi yang dimasak kental (Gulai).
Di Pontianak dan sekitarnya, sebuah acara dimulai jauh sebelum tenda dipasang. Ia dimulai dari pintu ke pintu. “Assalamualaikum, dari keluarga Si Fulan, mengundang untuk acara tahlilan/syukuran, nyilekan ke rumah habis Isya…”
REKOMENDASI TEMPAT MAKAN ROTI CANAI
1. PASAR TENGAH ,PONTIANAK KOTA, KOTA PONTIANAK – ROTI CANE PAK ALI
Leave a Reply