Jejak Purba Pohon Nipah
Pohon Nipah, Jejak Purba yang Melekat dalam Kehidupan & Budaya di Pesisir Kalimantan Barat
Pohon Nipah (Nypa fruticans) bukan sekadar tumbuhan air pasang. Ia telah ada jauh sebelum pemukiman modern berdiri di pesisir Kalimantan Barat. Tumbuh di antara sungai, rawa, dan muara. Nipah adalah bagian dari lanskap yang tak pernah dikutip dalam buku sejarah, tapi nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Bahkan pohon nipah melekat dalam nama desa. Di Kalimantan Barat, kita menemukan Desa Sungai Nipah di dua wilayah pesisir: Kecamatan Telok Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, dan Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah.
Nama-nama ini tak hadir sembarangan. Ia muncul dari apa yang tumbuh—dan apa yang tinggal dalam ingatan masyarakat sejak lama.
Pohon nipah memberi banyak hal tanpa diminta. Bagi masyarakat pesisir:
– Daunnya dianyam menjadi tikar, tikar hajatan, atap pondok, atau pembungkus nasi lemang.
– Buah mudanya dipotong lalu disajikan dalam manisan dan sirup buatan rumahan.
– Nira dari bunganya disadap menjadi minuman manis tradisional—di beberapa tempat diolah menjadi cuka atau gula nipah.
– Pelepahnya dikeringkan menjadi sapu lidi.
– Batang dan Akar kadang digunakan untuk arang ringan dan obat luar.
Di rumah-rumah kayu di tepian sungai, nipah adalah sumber daya sekaligus simbol ketahanan.
Bukan barang pasar, tapi bagian dari cara hidup.
Budaya masyarakat pesisir Kalimantan Barat sangat dipengaruhi oleh siklus air. Pasang surut sungai, musim ikan, sampai waktu panen nipah. Nipah menjadi bagian dari berbagai ekspresi budaya:
– Tikar anyaman nipah dijadikan alas kenduri, ritual tolak bala, hingga sajadah darurat.
– Sapu lidi nipah menjadi bagian dari kerja harian perempuan rumah tangga.
– Bungkusan makanan dengan daun nipah menunjukkan kepedulian terhadap alam dan estetika lokal.
Bahkan di beberapa komunitas pesisir, pengetahuan menganyam daun nipah diturunkan lintas generasi. Ini bukan keterampilan biasa, tapi bagian dari identitas keluarga.
Dalam budaya populer, nipah tidak masuk layar kaca.
Tapi dalam memori kolektif masyarakat pesisir, ia adalah bagian dari cerita:
Nipah bukan hanya tumbuhan.
Ia adalah penanda waktu, penjaga garis hidup, dan pengingat akar.
Tidak semua warisan punya prasasti.
Beberapa cukup tumbuh di tepian sungai, seperti pohon nipah.
Dan dari sanalah, budaya itu hidup, sehari-hari, tanpa seremoni.
Leave a Reply