Ilusi Kultural Bernama “Melayu”

Ape Bende Melayu?

Sebuah penelusuran identitas dari paradoks pop, narasi hulu sungai, hingga jejak imperium masa lalu di Kalimantan Barat.

Jika Anda mengharapkan satu kalimat definisi yang tuntas, berhentilah di sini. Namun, jika Anda bersedia tersesat dalam paradoks sejarah dan memori, mari kita mulai perjalanan ini dari sebuah kebingungan kultural yang sering kita saksikan lewat acara tv.

Bagian I: Melayu dalam Frekuensi Pop dan Ironi Kaset VCD

Mungkin kebingungan kita tentang “apa itu Melayu” paling mudah dipotret lewat industri musik Indonesia pasca-2000an.

Ingatkah Anda ketika industri musik kita didominasi oleh gelombang band seperti ST12, Wali, hingga Kangen Band? Publik dan kritikus musik sepakat melabeli mereka sebagai “Pop Melayu”. Padahal, jika kita bedah secara musikalitas, di mana letak Melayunya? Tidak ada rentak zapin, tidak ada petikan gambus, tidak ada pukulan rebana, dan tidak ada cengkok mendayu ala Siti Nurhaliza. Struktur kord mereka minor sederhana, lebih dekat ke pop balada biasa.

Namun, label “Melayu” itu melekat kuat. Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca dalam lagunya “Cinta Melulu” menyindir fenomena ini dengan lirik yang tajam:
“Apa memang karena kuping Melayu suka yang sendu-sendu? / Lagu cinta melulu / Kita memang benar-benar Melayu, suka yang sendu-sendu.”

Di sini, Melayu didefinisikan bukan sebagai etnis atau teknik bermusik, melainkan sebagai Selera (Taste). Melayu adalah sebuah atmosfer “kesenduan”, sebuah perasaan komunal yang menyukai ratapan cinta yang mendayu.

Ironi ini semakin menjadi-jadi jika kita menengok kebiasaan di kampung-kampung pesisir Pontianak atau Sambas. Di acara hajatan, suara yang keluar dari pengeras suara TOA atau VCD bajakan seringkali bukanlah seniman Melayu tulen, melainkan suara Victor Hutabarat yang menyanyikan “Kasih Sekejab” atau “Semalam di malaysia”.

Kita, masyarakat yang mengklaim identitas lewat Islam, tanpa sadar merayakan “jiwa Melayu” kita lewat suara seorang Batak Kristen. Ribuan warga pesisir yang menitikkan air mata mendengar lagunya adalah bukti bahwa “Melayu” memiliki dimensi rasa yang menembus tembok agama dan logika etnis.

Bagian II: Warga Hulu dan Melayu Sebagai “Kata Benda”

Kerancuan definisi ini berlanjut jika kita menoleh ke arah hulu sungai Kalimantan Barat.

Di pedalaman, terjadi fenomena sosiologis yang unik. Warga lokal (Dayak) yang memutuskan memeluk Islam tidak disebut “Mualaf” atau “Muslim Dayak”. Masyarakat—dan mereka sendiri—menyebutnya sebagai “Melayu”.

Perhatikan pergeseran maknanya. Di sini, Melayu bukan lagi sekadar kata kerja atau proses asimilasi (“Masuk Melayu”), melainkan telah menjadi kata benda mutlak. Seorang Dayak yang menjadi mualaf, seketika itu juga adalah Melayu.

Meskipun secara genetik DNA-nya tidak berubah satu nukleotida pun, meskipun lidahnya masih kental dengan dialek lokal, status sosialnya bermetamorfosis. Ia berpindah “kamar”. Ia bukan lagi bagian dari identitas lamanya, ia adalah entitas baru. Fenomena ini membuktikan bahwa Melayu berfungsi sebagai Seragam Politik dan Teologis. Siapa pun yang bersyahadat, berhak memakai seragam ini.

Bagian III: Melayu vs Arab (Seni Meniru dan Menjadi Diri Sendiri)

Poin paling krusial adalah hubungan antara Melayu dan Arab. Melayu hadir sebagai Diferensiasi (Pembeda). Melayu mengambil Islam dari Arab, namun menolak menjadi Arab sepenuhnya. Terjadi proses “Mimikri Kultural” yang canggih di sini:

  • Aksara Jawi (Arab Gundul): Identitas Visual. Perhatikan bagaimana nenek moyang kita menulis. Mereka mengambil huruf Arab, tapi memodifikasinya menjadi Aksara Jawi (Arab Melayu/Pegon). Mereka menambahkan huruf-huruf yang tidak ada dalam lidah Arab (seperti Cha, Nga, Pa, Ga). Kitab-kitab kuning di pesantren atau naskah perjanjian kerajaan ditulis dengan huruf ini. Secara visual, ia terlihat Arab (sebagai validasi keislaman), tetapi secara bunyi, ia adalah Melayu Austronesia. Ini adalah proklamasi: “Kami Islam, tapi kami bukan Arab. Kami punya lidah sendiri.”
  • Seni (Gambus dan Zapin): Hibridasi Irama. Alat musik Gambus (Oud) jelas berasal dari Timur Tengah. Namun di tangan orang Melayu, petikannya berubah. Iramanya tidak lagi murni padang pasir, tetapi bercampur dengan debur ombak sungai. Begitu pula dengan Tari Zapin. Gerakan kakinya (langkah satu, langkah dua) mungkin terinspirasi dari tarian Yaman, tetapi filosofi geraknya yang sopan, tidak meledak-ledak, dan penuh kiasan adalah murni etika Melayu. Zapin adalah tubuh Arab yang telah dirasuki roh Nusantara.
  • Nama dan Pengejaan: Lokalisasi Identitas. Dalam hal nama, orang Melayu melakukan adaptasi yang unik. Nama-nama Arab seperti Muhammad, Abdullah, Fatimah, atau Khadijah diambil sebagai bentuk keberkahan (tabarruk). Namun, lidah Melayu yang pragmatis segera mengambil alih. Muhammad menjadi “Mat” atau “Mamat”, Abdullah menjadi “Dolah”, Fatimah menjadi “Timah”, Khadijah menjadi “Ijah”. Bahkan dalam kemasan produk tradisional (minyak urut, kopi bubuk), kita sering melihat cap potret pendiri dengan nama-nama yang di-Melayu-kan ini. Penamaan ini bukan penghinaan, melainkan bentuk keakraban. Orang Melayu merasa Tuhan dan Nabi itu dekat, sehingga nama-nama suci itu boleh “didudukkan” setara di beranda rumah panggung mereka.

Jadi, Melayu adalah saringan. Ia mengambil sari pati peradaban Arab (Iman dan Ilmu), membuang ampasnya (budaya padang pasir yang tidak cocok), lalu menggantinya dengan budaya pesisir dan menjadi identitas baru yang otentik.

Bagian IV: Jejak Sejarah yang Mematahkan Mitos

Di tengah kuatnya narasi “Melayu = Islam” dan “Islam = Melayu”, sejarah kembali datang dengan fakta dingin yang mengganggu.

Catatan Dinasti Tang dari Tiongkok (Abad ke-7 M) menyebut sebuah kerajaan makmur di Sumatera bernama “Mo-Lo-Yu” (Melayu). Masalahnya, Mo-Lo-Yu saat itu adalah pusat pembelajaran agama Buddha. Fakta ini menghantam definisi kita hari ini. Ternyata, “Melayu” pernah eksis sebagai sebuah imperium besar tanpa Islam. Melayu secara “nama” jauh lebih tua daripada Melayu secara “definisi”.

Melayu sejatinya adalah Imperium Cair. Berbeda dengan Romawi yang membangun jalan batu, Melayu membangun jembatan bahasa dan menguasai urat nadi perdagangan selat.

Namun, identitas ini tidak diam di tempat. Ia berevolusi mengikuti arus zaman. Dari Mo-Lo-Yu dan Sriwijaya yang agung dengan mantra-mantra Buddha, tongkat estafet peradaban ini bergeser ke utara, menuju titik balik yang mengubah segalanya: Samudera Pasai.

Di sinilah “Software” Melayu diperbarui. Pasai menjadi gerbang pertama di mana Melayu mulai memeluk Islam sebagai identitas negara. Namun, adalah Kesultanan Malaka (Abad ke-15) yang kemudian menyempurnakan dan mengunci definisi ini selamanya. Malaka menjadi “cetak biru” (blueprint) bagi kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat, Riau, hingga Deli.

Malaka merumuskan standar baku: Bahasa Melayu Tinggi sebagai bahasa persatuan, Adat Istiadat yang bersendi syarak, dan Islam sebagai validasi mutlak.

Sejak era Malaka inilah, Melayu berdiri gagah di tengah-tengah raksasa dunia (Arab, China, Barat) bukan lagi sebagai penonton, tetapi sebagai Penyaring (Filter) peradaban:

  • Melawan China, Melayu era baru ini menawarkan konsep “Darah Cair” (siapa saja bisa masuk asal seiman, berbeda dengan China yang berbasis darah).
  • Melawan Barat, Melayu menawarkan konsep “Adat Timur” (halus budi bahasa melawan logika kaku kolonial).
  • Melawan Arab, Melayu menawarkan konsep “Islam Tropis” (Islam yang ramah, yang berlayar dan berdagang, bukan Islam padang pasir yang berkuda).

Jadi, Melayu yang kita kenal di Pontianak hari ini adalah “anak kandung” dari transformasi Malaka, bukan sisa-sisa dari Mo-Lo-Yu purba.

Konklusi: Definisi yang Tak Pernah Absolut

Apa itu Melayu? Apakah ia sebuah ras? Tidak, karena orang Dayak dan Arab bisa menjadi Melayu. Apakah ia sebuah agama? Tidak sepenuhnya, karena sejarah mencatat Melayu Buddha. Apakah ia sebuah tiruan Arab? Jelas bukan, karena Melayu punya aksara dan cengkoknya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *