Bekubang
Bekubang: Luka, Tawa, dan Memori Kolektif Budak Pontianak
#Ceritadaripesisir
Kota yang Pernah Hidup dari Air
Pontianak hari ini diukur dari deret ruko beton dan aspal panas. Namun, di balik deru kendaraan kota, tersimpan memori yang tak kalah derasnya bagi generasi 80 hingga 90-an: suara cipratan air, riuh tawa anak-anak yang menantang arus, dan ibu-ibu yang beraktivitas di tepian.
Dulu, Pontianak benar-benar kota yang dibangun di atas siklus pasang surut. Sungai dan parit bukan sekadar drainase atau jalur pembuangan limbah, melainkan jantung kehidupan sosial. Setiap aktivitas manusia tertambat pada air. Rumah-rumah membelakangi jalan dan menghadap ke parit. Di sanalah masyarakat bertukar cerita, berdagang, dan menjalin denyut komunalnya.
Tangga Aek: Titik Tolak Sebuah Arena
Infrastruktur sosial yang paling fungsional saat itu adalah tangga aek—sejenis dermaga kayu kecil di depan rumah atau gang. Menjelang sore, saat air pasang mulai naik, tangga aek beralih fungsi menjadi titik tolak bagi anak-anak untuk bekubang (bermain air/berenang).
Bekubang bukan sekadar mandi sore. Ia adalah ritme harian yang liar dan merdeka. Tak ada pelampung karet berwarna-warni; anak-anak belajar mengapung bermodalkan ban dalam motor bekas, batang pisang, atau sekadar insting dan nyali. Tangga aek menjadi menara loncat, tempat memamerkan keberanian di hadapan kawan sebaya.
Ranjau Dasar Parit: Tunggol dan Beling
Bekubang adalah arena yang menguji fisik. Di bawah permukaan air keruh itu, ancaman selalu mengintai, memberikan pelajaran tentang kewaspadaan.
- Tunggol: Sisa batang kayu tajam yang menancap kokoh di dasar parit atau sungai.
- Beling: Pecahan kaca botol atau potongan seng karatan yang terkubur lumpur.
Hampir setiap budak Pontianak yang rutin bekubang pasti pernah kakinya robek terkena berbagai ranjau. Dulu, menginjak beling atau pendaratan bersambutkan tunggol adalah tragedi yang diakhiri dengan omelan panjang orang tua dan olesan obat merah, totokan batok kelapa, sendal, minyak tanah, hingga zambuk. Ada juga ranjau yang paling ditakuti bagi budak-budak yang kebetulan bekubang di tepian laut, yaitu LEPU, niscaya korban berakhir demam atau di ayunan (Hanya Kaki).
Ekosistem Teror dan Aib Komunal
Selain bahaya fisik, bekubang memiliki ekosistem candaan yang kasar namun membentuk ikatan pertemanan yang kuat:
- Mitos Ikan Ketang: Ikan berlendir dengan duri tajam ini (Scatophagus argus) sering dijadikan alat teror psikologis. Saat air pasang tinggi dan pakaian basah kuyup, ancaman paling menakutkan dari kawan-kawan adalah teriakan, “Awas ketang masok ke dalam seluar (celana) kau!” Sebuah teror absurd yang refleks membuat siapa pun merapatkan kaki saat berenang.
- Insiden Ranjau Mengapung (BAB): Parit yang mengalir kadang membawa “kiriman” dari hulu. Menemukan kotoran manusia yang mengapung terbawa arus saat sedang asyik berenang adalah sebuah aib komunal. Siapa pun yang tak sengaja menyentuhnya, atau berada paling dekat dengan benda tersebut, akan menjadi target roasting dan bulan-bulanan satu tongkrongan hingga berhari-hari.
Benturan Kultur Pop: WWF SmackDown dan Bekap Lumpur
Era 90-an akhir adalah masa di mana televisi mulai menginvasi ruang keluarga, membawa kultur pop Amerika bertabrakan langsung dengan lumpur Kapuas.
- Ring Gulat Air: Parit yang sedang pasang tinggi adalah ring gulat gratis dan aman. Gaya Tombstone Piledriver ala Undertaker, Chokeslam dari Kane, hingga manuver The Rock dieksekusi dengan brutal di dalam air. Tangga aek menjadi turnbuckle tempat mereka melompat menerjang kawan. Ini adalah obsesi masa kecil yang terekam indah.
- Perang Bekap Lumpur: Ketika air mulai surut dan menyisakan tepian parit yang dangkal, permainan berubah bentuk. Anak-anak memulai perang bekap (lempar) lumpur. Saling serang hingga wajah, rambut, dan telinga pekat oleh lumpur hitam yang berbau khas.
Memudar dalam Derap Beton
Kini, seiring modernisasi kota, budaya sungai kian terdesak. Parit-parit mulai ditimbun, disempitkan, ditutup beton, atau murni dialihfungsikan menjadi saluran limbah. Bekas kampung-kampung air berganti menjadi deretan ruko dan perumahan elite.
Tangga aek nyaris musnah. Generasi masa kini tak lagi mengenal bekubang kecuali lewat cerita orang tua mereka. Air parit tak lagi mengundang untuk diselami. Padahal, hilangnya budaya parit ini adalah hilangnya identitas yang signifikan. Pontianak, yang dahulu digelari “Kota Seribu Parit,” perlahan lupa akan bentang alam aslinya.
Mengingat masa lalu bukan sekadar untuk merawat romansa, tapi juga menyadari dari mana kota ini berasal. Karena kota yang dengan sengaja menghilangkan jejak airnya, sesungguhnya sedang mengubur sebagian dari jiwanya sendiri.

Leave a Reply