Pasar sebagai Ruang Sosial Budaya

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup urban, pasar tradisional masih menyimpan denyut sosial yang khas.
Pasar Flamboyan bukan sekadar tempat bertemunya uang dan barang, tapi tempat di mana relasi sosial, bahasa, budaya, dan kebiasaan warga dijalankan, diwariskan, dan dihidupkan. Di sanalah ruang hidup kota ini berdenyut—lebih dari sekadar harga yang bisa ditawar, tapi juga cerita yang bisa dibagi, dan hubungan yang bisa dijalin tanpa perlu aplikasi.


Flamboyan; Pasar yang Tak Pernah Tidur
Subuh di Pontianak punya satu pusat gravitasi: Flamboyan.
Sebelum matahari terbit, ketika sebagian kota masih terlelap, suara seng sudah dibuka, ikan digelar, dan aroma daun pisang mulai menguar dari lapak ke lapak.
Udara masih lembab oleh embun, tapi obrolan antar pedagang sudah hangat. Inilah waktu paling hidup di Flamboyan. Waktu di mana ruang interaksi sosial dimulai lebih awal dari jam kerja, dan ritual jual-beli menjadi bagian dari ritme harian.
Flamboyan bukan cuma tempat membeli kebutuhan dapur, tapi juga tempat di mana warga Pontianak memulai hari dengan bertegur sapa, menyambung silaturahmi, dan saling bertukar kabar.


Pasar sebagai Ruang Interaksi, Bukan Sekadar Transaksi
Di Flamboyan, tawar-menawar bukan sekadar soal harga, tapi cara menjaga hubungan.
Pedagang dan pelanggannya saling mengenal, bukan hanya nama, tapi juga kisah: anak siapa, kerja di mana, tinggal di gang berapa.
Ada langganan yang sejak bujang sudah belanja di sana, lalu mengenalkan anaknya ke pedagang yang sama.
Pasar menciptakan lingkaran sosial mikro yang hidup.


Melayu, Tionghoa, Dayak, Bugis — semuanya berbaur dalam satu ruang, tanpa sekat, tanpa perlu simbol-simbol inklusi.
Obrolan yang terjadi tak hanya soal ikan dan sayur, tapi juga soal cuaca, kabar politik, harga solar, isu kota, hingga keluhan sehari-hari. Di antara tumpukan sayur dan tenda terpal, warga Pontianak menemukan ruang berbagi yang hangat dan cair.
Bagi banyak warga Pontianak, Flamboyan bukan cuma pasar, tapi bagian dari memori masa kecil.
Banyak dari kita tumbuh dengan ikut orang tua belanja di sana.
Di tengah kota yang makin sibuk dan digital, adakah ruang-ruang sosial seperti Flamboyan yang masih kita jaga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *