Menjaga Jenama Kota Sungai dari Atas Arus Kapuas

Di atas arus Sungai Kapuas yang membelah Kota Pontianak, suara mesin kecil terdengar akrab. Speed kecil yang saban hari menyeberangkan warga dari Siantan ke Sisi Kota — dan sebaliknya. Masyarakat menyebutnya penambang speed.

Istilah “penambang” berasal dari kata tambang yang dalam konteks lokal berarti ongkos atau biaya. Sejak dulu, kata ini melekat pada jasa transportasi.

Lebih dari sekadar jasa, profesi ini mencerminkan hubungan Kota Pontianak dengan sungainya. Dalam lanskap kota yang semakin dipenuhi kendaraan darat, kehadiran penambang speed adalah pengingat bahwa Pontianak lahir dan bertumbuh dari tepian sungai. Mereka menjaga wajah lama kota: kota air yang bergerak mengikuti arus.

Tidak hanya mengangkut tubuh, penambang speed juga membawa ingatan. Tentang anak sekolah yang menyebrang pagi-pagi, pedagang yang menenteng hasil pasar, hingga orang tua yang ingin pulang ke seberang.

Semua itu berlangsung di atas perahu kecil yang tetap setia menjalankan ritme harian kota. Sebagian menyebut mereka akan tergantikan. Tapi di tengah perubahan, penambang speed tetap bertahan — tidak hanya sebagai moda transportasi, tetapi sebagai memori kolektif kota sungai.

Profesi ini akan tetap hidup selama sungai masih mengalir, dan ‘Pontianak sebagai Jenama Kota Sungai’ bukan sekadar slogan, tapi hadir nyata dalam keseharian warganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *